Sejarah Desa

Sejarah Desa

Legenda Desa Sokoyoso

            Pada jaman dahulu kala datanglah sorang tokoh yang bernama Mr. Room ( Mbah Mister ) yang bertempat tinggal ditempat di Dukuh Kembang, pada jaman itu beliau sedang dikejar oleh tentara belanda yang sedang menjajah di Negeri pertiwi Indonesia,dengan beliau melarikan diri ke dukuh kembang tersebut maka secara tidak langsung beliau bermukim di tempat ini dan berlindung dari para tentara belanda di dukuh kembang. Kemudian beliau mengutus seseorang yang bernama Saejo untuk menduduki Di dukuh Siramu. Sedangkan di dukuh Dawuhan ada sebuah Candi Putut yang konon Kabarnya terjadi karena adanya sebuah keris yang jatuh di daerah sekitar dukuh Dawuhan yang tepatnya di sekitar sungai secara tidak langsung sungai tesebut diberi nama Sungai Dedes.

Seiring waktu berlalu datanglah seorang tokoh yang sering disebut Mbah Penggarit atau Demang Broto Yudho beliau juga meninggalkan sebuah petilasan yang sekarang sering disebut Penggarit. Kemudian dari tiga tokoh tersebut maka berdirilah sebuah desa yang di sebut Desa Sokoyoso , Soko Atau Suko yang berari Seneng sedangkan Yoso yang berarti Membangun atau berkarya Jadi arti dari Sokoyoso adalah Senang Membangun atau Berkarya.

Dari legenda tersebut sampai sekarang masih banyak yang percaya akan adanya legenda tersebut dan adanya cerita yang menunjukan adanya benda yang disebar di daerah sekitar candi untuk permohonan berkah dan keinginan yang belum tercapai untuk itu mereka sering bertapa di candi dan petilasan tersebut, sampai sekarang masih terasa hawa mistisnya di daerah sekitar Candi dan petilasan tersebut.

Sejarah Pemerintahan Desa

Sejarah yang pasti untuk berdirinya desa sokoyoso ini belum di ketahui untuk Tanggal, Bulan Serta Tahunnya. Tapi Konon Kabarnya ada Selisih beberapa Ratus tahun dengan Terbentuknya Kota Topongalong yang Sekarang  sering disebut Pekalongan. Dari cerita para tokoh masyarakat pada tahun 2007 yaitu Mah Taruno (alm) Atau Sering disebut Mbah Truno di Dukuh Krajan yang menurutnya beliau masih ada keturunan Ke 4 ( empat ) dari mabah Mester Sedangkan untuk anak dari Mbah mester yaitu Mbah Culat Konon Memiliki Kiprah sebagai Guru Nagji di Desa Sokoyoso.Mbah Truno Ini Meninggal Pada Tanggal 19 Maret 2009 Dengan Usia 94 Tahun.sebelum Beliau Meninggal Mbah Truno Menceritakan Sejarah Desa ini Kepada Siti Nurholifah ( KPMD ) yang waktu itu mendapat tugas dari PNPM untuk Mengisi Sejarah Perkembangan Desa.

Dari cerita Tersebut maka sejarah Perkembangan Pemerintahan Desa dapat diketauhi walaupun masih banyak yang terlewatkan, Dari cerita  Mah Truno Tersebut maka dapat di ambil kesimpulan. Yaitu Berdirinya Sokoyoso Dipelopori Oleh 2 ( Dua ) Orang Yaitu Mbah Mr ( mister ) dan Kyai Penggarit, dalam memperoleh Kekuasaannya, dua tokoh ini sangat berbeda Untuk Mah Mester cara Pemerintahanya belum dengan berdasarkan Religius. Sedangkan Kyai Penggarit dengan cara Pembakaran Hutan dan semak-semak belukar dengan api, sehingga beliau mengklaim bahwa ada wilyah yang terbakar adalah batas kekuasaanya. Adapun kyai penggarit dalam pengelolaan lahan pertanian masih sering mendapat kendala kekurangan air, maka beliau meminta bantuan kepada desa lain. Saat pengairan irigasi tersebut melewati sungai yang sekarang disebut sungai Tengah (  Tengah ) yang sekarang disebut dengan kali penggarit. Pembuatan kali tersebut dilakukan cengan cara di tarik lurus dari timur ke barat dengan menggunakan tongkatnya.

Awalnya Desa Sokoyoso membiayai pembangunan Desa dengan Cara Menjual Kayu yang ada di Dalam Desa, dana tersebut di Gunakan untuk Pembangunan Jalan, Jembatan, Irigasi, Sekolah Dan Sebagainya sesuai dengan Prioritas yang mendesak saat itu. Kemudian Setelah Desa Sokoyoso Mulai Berkembang dan Meluas Mbah Mester Pergi dari Desa Sokoyoso Untuk Mencari Makam Buyutnya di Desa Selo, Kemudian Pada Saat Pendataan Tahun 2009 Keberadaan Makam Mah Mester Telah diketemukan di Desa Selo Kecamatan Grobogan Propinsi Jawa Tengah Oleh Anak dari Mbah Truno ( Mah Taruno ) Dengan dasar Cerita Dari Seorang Pamong yang juga konon Masih Cucu angkat dari Mbah Mester dan memperlihatkan kepada anak dari Mah Truno Sebuah Pusaka Peninggalan dari Mah Mester.

Mulai tahun 70an desa Sokoyoso Mulai Mendapatkan Bantuan dari Pemerintah dengan Bangdes, Bangdes Tersebut di alokasikan untuk Pemabngunan Fisik maupun  Non Fisik. Masyarakat Desa Sokoyoso juga selalu Mengikutsertakan masyarakatnya untuk perencanaan dan pelaksanaan Pembangunan bahkan sampai perawatannya. Musyawarah secara perwakilan juga diikutsertakan sehingga dapat mengambil kebijaksanaan untuk pembangunan desa.

Tinggalkan Komentar via Facebook